Bhineka Tunggal Ika dan Memaknai Nyama

Serial Kebangsaan 03
Suatu malam di Tabanan, Bali, saya menghadiri Majelis Alquran Al-Hadi edisi perdana di pesantren Roudhotul Hufazh. Saya menyimak langsung bagaimana Kyai Haji Noorhadi  yang menghimbau:
“Kita (umat Islam) harus menjaga agar Pancasila, NKRI, UUD, dan Kebhinnekaan tetap terjaga. Kalau sistem Khilafah didirikan, maka Bali akan merdeka”
Pesan Kyai asal Demak, Jawa Tengah tersebut mengingatkan saya akan pesan Bhineka Tunggal Ika.
Dalam konteks ini saya hendak memaknainya dengan beberapa poin khusus:
PERTAMA, berdirinya pesantren penghafal Alquran di Bali adalah bukti bahwa dalam konteks hubungan antar sesama manusia ( pawongan) toleransi ke-bhineka-an dan kebersamaan sebagai negara-bangsa tetap eksis di Bali. Di sisi lain, Pak Kyai juga mengajarkan kita untuk melihat Kehinduan khas Bali sebagai bagian dari  taksu Bali yang perlu dijaga bersama dengan harmonis. Ia tak sebanding dengan Hindu Jawa, Hindu Kaharingan di Kalimantan, bahkan Hindu di India. Pun kenyamanan Kyai ini mengelola aktivitas Keislamannya sesungguhnya prestasi bagi Kehinduan khas Bali yang toleran, bukan seperti kejadian ‘oknum’ dewan yang memaksa musti ada kerupuk Babi dalam lingkungan mayoritas Muslim.
KEDUA, secara konseptual, pesan Kyai ini seakan resonansi dari masterpiece Mpu Tantular, yang menyusun kitab Sotasoma dimana di dalamnya membicarakan Bhineka Tunggal Ika.
Mpu Tantular seakan memberikan forecast bagi kita, bahwa akan hadir sebuah entitas peradaban unggul (Indonesia) bentukan anak segala bangsa yang menyadari kebutuhannya untuk bersatu, sebab tanpanya dalam ukuran entitas-entitas kecil mereka terlalu lemah-rapuh-ringkih untuk menghadapi monster, predator, penjajah dari kalangan bangsa megalomania dari luar sana.
KETIGA, secara faktual, sosok Mpu Tantular sendiri bukti kekuatan Bhineka Tunggal Ika itu. Beliau merupakan leluhur orang Bali, karenanya Bhineka Tunggal Ika adalah sumbangsih Bali untuk Indonesia. Namun, di sisi lain, dirinya juga menjadi simbol sumbangsih Jawa bagi Bali dan Indonesia.
Ibunda dari Mpu Tantular  adalah Ratna Manggali, putri tunggal Mpu Kuturan asal Jawa yang datang ke Bali tahun 1001 M, era Prabu Udayana (989-1010). Oleh Udayana, Mpu Kuturan diangkat menjadi penasehat. Sosok Mpu Tantular yang pujangga keturunan Jawa (pendatang? Bukan asli?) dan beragama Buddha (non-Hindu) tentu menarik direfleksikan ke konteks kekinian.
Dari Bali untuk Jawa, Dari Jawa untuk Bali
Sama halnya dalam ranah politik ada sosok Raja Airlangga, leluhur para penguasa Jawa Timur, konon merupakan keturunan Bali Udayana. Ini sumbangsih Bali untuk Jawa.
Sebaliknya, sebagian para pemimpin Bali tak lain berasal dari para Arya Majapahit. Diantara yang paling populer adalah hadirnya Gajahmada ke Bali dibantu Arya Damar/Adtyawarman pada 1343 M dan menjadikan I Gusti Agung Pasek Gelgel sebagai raja sementara (1343-1352) dibantu para Ksatria Jawa: Arya Kenceng, Arya Kenuruhan, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Delancang, Arya Pengalasan, Arya Tanmundur, dan Tankaur).
Setelah itu, hadirlah era migrasi bergelombang orang-orang Jawa (Shiwa-Budha) ke Bali sehingga anak-keturunannya telah menjadi bagian besar dari masyarakat Bali kekinian.
Memaknai Nyama Berbasis Kemanfaatan
Alih-alih melanjutkan wacana seputar Pribumi vs Pendatang di tanah Bali, maka atas dasar refleksi sejarah ataupun tuntutan di era globalisasi ini adakah perlu dibuka ruang untuk memaknai lagi istilah Nyama.
konsep me- nyama braya yang ada di Bali adalah budaya adiluhung yang diapresiasi masyarakat ragam warna. Sayangnya, hanya dinikmati secara riil oleh generasi tua. Artinya, generasi muda tidaklah sedemikian mantap dan leluasa menikmati konsep me- nyama braya ini di Bali.
Banyak faktor sebagai penyebabnya selain penghayatan sejarah. 1. tingkat pendidikan yag semakin baik karena siswa lebih banyak disibukkan dengan tugas sekolah sehingga tidak sempat lagi berinteraksi secara lebih luas, 2.  kesejahteraan yang semakin baik, misalnya Air Pam dahulunya adanya di salah satu titik saja, baik Hindu maupun Islam berbondong mencari air di titik tsb. Sedangkan kini tiap keluarga hampir sudah punya pam sendiri. 3.  kemajuan teknologi. Adanya televisi atau radio, dahulupun hanya di balai desa atau pada juragan kaya. Seluruh warga yang mau nonton atau mendengar radio jadi akrab dan bersahabat karena memiliki tujuan yang sama. Baik dari ragam agama atau latar kesukuan apapun.
Maka, selayaknya kita memperkuat kategori persaudaraan berbangsa-bernegara di Bali, dari yang eksklusif didasari perbedaan suku dan beda agama kepada perlombaan manfaat untuk memajukan generasi Bali dan Indonesia masa depan. Sebagaimana inspirasi sumbangsih Mpu Tantular untuk Indonesia. Menghadirkan kenyamanan bagi siapapun yang beritikad baik memajukan peradaban Indonesia.

Comments 0

Leave a Reply