Jangan Biarkan Bullying, Bangun Pendidikan Karakter

( serial kebangsaan 04)

H. Arya Sandhiyudha, Ph.D*

Setelah tunai membeli tiket penerbangan dan penginapan ke Bali, untuk menghadiri acara Minggu 6 Agustus 2017 bertema Pendidikan yang sedianya saya atas undangan PW Muhammadiyah Bali akan dipanel bersama yang terhormat Mendikbud Prof Muhajjir Effendy dan Anggota Komisi X (bidang Pendidikan) DPR RI Pak I Wayan Koster, semalam kami dikabarkan acara tsb batal. Amat disayangkan, karena kesempatan berguru dengan dua sosok yang sangat concern di bidang pendidikan tsb hilang, sebab tetiba diinformasikan digeser ke tanggal 10. Sementara insyAllah tanggal 8 saya sudah bertolak ke Ukraina.

Kesempatan tsb. tadinya saya ingin gunakan untuk menyampaikan hal-hal yang menjadi keprihatinan saya paling membatin tentang dunia pendidikan. Ini bukan hanya tema yang dibutuhkan publik, tapi ada hal yang sangat personal bagi saya yang tidak hanya kini merupakan praktisi pendidikan sebagai dosen, namun juga saya putra seorang guru PAUD yang semasa kecil sudah “bersekolah” menemani sang guru (ibu saya) mondar-mandir dengan angkutan kota/Bus sejak belum masuk syarat minimum usia PAUD hingga usia menjelang TK dan bahkan ketika di rumah masih merasakan sentuhan psikologis pendidikan anak hingga SD dst. Suatu masa yang amat berkesan manfa’atnya di kemudian hari.

Bagi siapapun, pengalaman anak-anak di usia tsb. sangat menentukan bagi pendidikan karakter dan pembangunan manusia seutuhnya- tajuk yang semestinya akan di-dialog-kan pada acara tanggal 6 tsb.

Maka, upaya mengganti hilangnya kesempatan tsb. perkenankan kami mengurai sedikit apa yang menjadi perhatian kami, yakni soal bullying terhadap anak-anak kita yang apabila dibiarkan akan merampas korban tidak hanya segelintir, namun merusak masa depan generasi Indonesia.

Kok bisa?! Oleh karena bullying, baik anak-anak korban bully-nya atau anak-anak yang konsisten mem-bully, melalui studi Robert dalam Smokowski dan Kopasz (2005) dikatakan umumnya menjadi terbiasa dengan perilaku kriminal saat dewasa dan selalu gagal dalam karir. Coba perhatikan, kawan-kawan kita yang dulu ‘jagoan’ bullying atau korbannya, bagi yang tidak taubat total atau sembuh trauma total, lihat dan dalami bagaimana karirnya sekarang. Benar kan?!

Itulah kenapa banyak negara maju di dunia, umumnya memfokuskan pendidikan 1-7 berbasis permainan bagai “Raja”, terus menjaganya dalam pembiasaan perilaku interaksi sosial yang baik. Lupakan sejenak pengutamaan science dan lainnya. Kemudian melanjutkan fokus pendidikan perilaku interaksi sosial yang baik dengan sangat disiplin hingga ia kelak menjadi budaya generasi tsb. dengan tetap basis bermain ketika usia 8-14. Barulah, dunia yang mengarah pada spesialisasi benar-benar digenjot saat 15-dst.

 

Waspadai Bullying dalam Ragam Jenisnya

Membiarkan perkataan atau perilaku agresif menyakiti atau mengendalikan dengan cara kekerasan terhadap anak-anak berarti merampas mimpi masa depan anak-anak kita.

Termasuk: membiarkan perkataan-perkataan negatif, mengalir berulang dengan sengaja, melukai atau membuat tidak nyaman anak-anak sebagai ‘korban’ tanpa ia kuasa melawan itu adalah bullying. Suatu hal yang variasinya banyak, bisa verbal, fisik, pengucilan, tekanan mental, seksual. Di era kini, dapat terjadi via sms, e-mail, telepon, atau sosmed.

Itu semua dapat berdampak macam-macam: penurunan semangat belajar karena lingkungan perkawanan yang sangat tidak nyaman, ambruknya prestasi, kesehatan fisik-mental terganggu, depresi-stress, gangguan psikis akhirnya sulit tidur (insomnia), kecemasan berlebih, runtuhnya kepercayaan diri, dst.

Dunia pendidikan bertanggung jawab, baik para pendidik di sekolah, orang tua di rumah, atau setiap kita dalam mendidik anak-anak kita sebagai unsur pembentuk lingkungan positif yang turut melindungi anak-anak lain dari potensi bullying.

Meski korban bullying bisa menimpa siapa saja, kita bisa mengenali anak-anak yang umumnya terdampak:
1. Anggota/ siswa baru;
2. Junior/ lebih muda;
3. Lebih lemah fisik atau posisi sosial atau ekonomi;
4. Kurang bisa bergaul/ suka menyendiri;
5. Kaum minoritas (SARA).

Pendidikan karakter adalah tepat agar anak-anak kita tidak menjadi korban bullying meski memiliki ciri-ciri potensi tsb.

Adapun bagi anak-anak kita yang tidak berpotensi menjadi korban bullying kita dapat mendidiknya menjadi pemimpin dan sahabat berkarakter yang melindungi anak-anak lainnya dari potensi mengalami bullying.

Jangan juga menduga orang tua tidak dapat menjadi produsen pelaku bullying, kalau terbiasa mengejek-meremehkan anak dengan kata-kata negatif, pelit memuji keberhasilan anak, menghukum anak tanpa penjelasan kesalahan, serba boleh dan membiarkan anak mengakses TV dan internet tanpa kendali, atau membiarkan anak hanyut dalam lingkungan/ rekan sebaya tanpa saringan perilaku negatif.

 

Pendidikan yang Royal Apresiasi

Pendidikan karakter anak memang sangat mengandalkan budaya yang royal apresiasi.

Saya jadi teringat dulu waktu SD kelas 3 saya bingung kenapa setelah pembagian kertas ujian ada kawan yang cemberut, saya tanya “kenapa?” Dijawabnya, “dapat nilai 6, takut dimarahin bapak. Ini turun banget!”. Sementara, di tangan saya nilai “3”, saya jadi tertular takut apalagi Bapak saya guru besar bela diri.

Jadilah saya lalu pulang ke rumah dengan murung dan khawatir. Melihat air muka saya beda lalu Ibu nanya, “kenapa Mas Aryo (panggilan rumah saya)?”. Saya jawab “nggak papa”, takut Ibu cerita nanti ke Bapak. Sewaktu di rumah da Bapak sudah pulang, saya tambah murung dan tambah khawatir.

Bapak saya dengan suaranya yang besar dan kuat nanya, “kenapa Mas Aryo?”. Akhirnya saya menjawab, “ini nilai ulangan jelek”. Bapak saya, anehnya tersenyum, lalu dengan suaranya yang memang keras dan tinggi, “coba mana lihat bawa sini!”. Jadilah saya ambil dan serahkan.

Setelah dilihatnya, Bapak malah bilang dengan suara yang lebih keras tapi sambil tersenyum lebar, “Wah dapat 3! Coba sini jelasin!” Bapak turun dari kursinya untuk duduk di bawah, “Mana aja yang salah?” Saya tunjuk 7 soal, “Ah, soal-soal ini kan nggak ada hubungan sama hidup kamu, nggak papa salah, besok bisa diperbaiki” Lega saya dan langsung tersenyum. Bapak nanya lagi, “Mana yang benar?” Saya tunjuk 3 nomor sambil tersenyum bangga, Bapak bilang “Nah, ini justru soal-soal paling sulit dan paling mendasar dari semua soal, kamu benar semua! Hebat! Itu spesialisasi kamu memang!” Lalu bapak ketawa lepas terbahak bersama saya yang saat itu sangat lega dan bahagia. ?

Tema Minoritas dalam Sejarah Model Pendidikan Karakter

Menjadi minoritas juga objek empuk bullying, kalau ini, diperlukan sedikit sentuhan wawasan sejarah tentang bagaimana proses kita Indonesia dari anak segala bangsa yang terserak lalu memilih menjadi satu negara-bangsa yang solid.

Diantara penggalan sejarah inspiratif di Bali yang dapat menjadi basis pendidikan karakter pendukung keIndonesiaan kita adalah:

Pertama, mari kita menyimak kenapa praktik pawongan yang kaya dengan toleransi kebhinekaan, diantaranya pesan Bhineka Tunggal Ika lahir dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Dimana Mpu Tantular yang dianggap sebagai leluhurnya orang-orang Bali, namun berasal dari Jawa dan beragama Budha.

Kedua, kelapangan Bali mewadahi anak segala bangsa-agama-warna ternyata diilhami oleh potret masyarakat ini sebagai pendatang utamanya berduyun gelombang migrasi Jawa ke Bali pasca kedatangan Majapahit 1343 ditandai resi besar dan pemimpin politik para (sekitar 9) Arya dari Majapahit (Jawa)

Ketiga, Raden Patah (asal kata Fattah), pendiri kerajaan Islam Demak bernama lain Jin Bun seorang anak dari ibu berdarah Tionghoa putri Kyai Batong/ Ma Hong Fu; ayah tirinya Arya Damar/ Hoa Swan Liong; dan murid dari gurunya yang juga Tionghoa, Bong Swi Hoo/ Sunan Ampel.

Keempat, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460) pasca mengadakan konferensi raja-raja Nusantara 1380an, Prabu Hayam Wuruk utus 40 pengiring Muslim menghantar Dalem Ketut Ngelesir ke Gelgel. Hingga mereka kawin mawin dengan warga lokal.

Kelima, Dalem Waturenggong (1460-1550) menjadi teladan pemimpin yang menghadirkan kultur perekat, hobi memberi sangu calon haji dan memberi tanah di Kampung Jawa dan Kampung Lebah.

Keenam, demikian pula pendahulu Kampung Bugis Suwung, yang akan berangkat ke tanah suci kerap diberikan sangu oleh raja pada saat itu. Saat bulan Ramadhan diberikan bekal minyak dan lauk pauk serta beras yang cukup untuk satu bulan. Inilah bentuk hubungan keharmonisan antara Muslim Bugis di Denpasar dengan pihak Puri. Sementara, kontribusi Muslim Bugis bagi kerajaan Badung adalah bahwa rerata adalah pengawal kerajaan khususnya saat terjadinya peperangan. Mereka dianggap sebagai duta/ sahabat yang menjembatani dua entitas kerajaan. Bone dan kerajaan Badung yang membantu kerajaan Badung untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Pendidikan karakter pada akhirnya harus berhasil menyerap kebijaksanaan yang terserak dari praktik sukses pendidikan di ragam tempat disertai penanaman nilai dan pelajaran terbaik sejarah demi kematangan karakter anak sebagai generasi masa depan Indonesia.

Semoga uraian ini dapat menggantikan kehadiran kami yang berhalangan tanggal 10 nanti. Sukses untuk PW Muhammadiyah Bali beserta para guru, pelajar, dan sahabat yang menghadiri nanti.

 

*Akademisi, WNI pertama penerima gelar Doktor bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari kampus Turki; Berpengalaman pendidikan formal dan non-formal, ataupun riset di lebih dari 20 negara dunia.

Comments 0

Leave a Reply