Rahasia Kelapangan Bali Mewadahi Kemajemukan

 Serial Kebangsaan 02
Diantara taksu (daya magis pemikat) yang dimiliki Bali -seperti Saya urai di serial kebangsaan 01- adalah: kelapangan pulau kecil ini dalam mewadahi anak segala bangsa-agama-warna yang berdatangan dan berkumpul. Tentu kita ingin tahu bagaimana awalnya karakter (aselinya) ini terbentuk? Ternyata jawabannya karena *warga Bali sendiri pada mulanya adalah potret sosial masyarakat pendatang*.
Asal usul eksistensi masyarakat Bali sangat kental dengan sejarah ragam “kedatangan” Majapahit di Bali, baik di era jayanya 1343 M ataupun pasca runtuhnya 1500an M. Sehingga, Bali dan Jawa pada akhirnya sangat sulit untuk dipisahkan.
Warga Bali yang kini disebut “asli” pada mulanya adalah “pendatang” Jawa. Penulis babad yang masyhur semisal Jero Mangku Ketut Subandi, sampai menyebut kedua entitas tsb terikat “esensi kesatuan” wilayah.
Diantara argumentasi sejarahnya adalah:
(1). Hindu Bali terikat erat dengan Jawa, nyaris semua resi besar di Bali berasal dari Jawa, dari Mpu Kuturan (kakeknya Mpu Tantular penulis Sutasoma juga muasal narasi Bhineka Tunggal Ika) hingga Danghyang Nirartha.
(2). Babad para penguasa/ pemimpin politik juga memperlihatkan kaitan erat Jawa dan Bali. Prabu Airlangga, leluhur para penguasa Jawa Timur, adalah keturunan Udayana asli Bali. Sebaliknya, para penguasa Bali di kemudian hari tak lain berasal dari para Arya dari Majapahit (Jawa).
Pada mulanya Bali, dihadirkan Singasari tahun 1286 M. Kemudian hadir era Majapahit, 1343 M. Dimana I Gusti Agung Pasek Gelgel menjadi raja sejenak (1343-1352 M) dibantu para Ksatria Jawa: Arya Kenceng, Arya Kenuruhan, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Delancang, Arya Pengalasan, Arya Wangabang, Arya Kutawindra dan beberapa Weisa: Tankober, Tanmundur, Tankaur. Bahkan, tahun 1352 Majapahit mengutus Sri Aji Krisna Kepakisan memimpin Bali. Akhirnya, para pemimpin asal Jawa itu secara turun temurun melahirkan bangsawan Bali sampai era kini.
Setelah kehadiran Majapahit itulah orang-orang Jawa berduyun datang ke Bali, termasuk di dalam gelombangnya adalah orang-orang Muslim-nya.
Dalam konteks inipula dapat dijelaskan bahwa sejarah hadirnya Muslim di Bali sebenarnya umumnya sudah Islam sejak di Jawa-nya dan bukan hadir sebagai ancaman islamisasi terhadap agama mayoritas penduduk yang lebih dahulu dianut. Ini perlu digarisbawahi agar tiada upaya mereduksi lalu kemudian mengganggu pemaknaan bermasyarakat yang harmonis.
Sebagaimana sekarang, umumnya ‘pendatang’ hadir bermukim di Bali untuk berdagang, berasal dari latar non-keagamaan, bukan untuk islamisasi, karenanya pendalaman keIslaman lebih ditujukan untuk konsumsi pribadi dan pemberi kenyamanan relijiusitas bagi entitas.
Atas kesadaran itu, menarik untuk kita ulas bagaimana beberapa penggalan peristiwa Islam di nusantara yang terkait dengan hadirnya Islam di pulau Bali.
Sintesa Muslim Jawa dan Tiong Hoa era Majapahit
Adalah situs kuno makam Troloyo, kecamatan Trowulan, Mojokerto yang menjadi bukti arkeologis pemukiman Muslim. Dari angka pada nisan berkisar antara 1368 (abad 14 M) hingga 1611 (abad 17 M), seperti diulas sarjana Belanda PJ Veth dalam buku “JAVA II” (1873) juga L.C. Damais peneliti asal Perancis.
Banyak pula dijumpai pegawai pelabuhan Majapahit yang Muslim. Ma Huan, juru tulis Laksamana Cheng Ho yang datang ke Majapahit era raja keempat Wikramawardana, menggambarkan banyak orang Muslim Tiong Hoa di Majapahit yang diangkat guna berkomunikasi bahasa Arab dan/atau Melayu dengan saudagar asing yang Muslim. Catatan Yingya Shenglan (1416) juga menyebutkan 3 elemen warga pelabuhan: Nusantara, Arab, Tiong Hoa.
Orang-orang Muslim dari Tiong Hoa yang dipimpin Cheng Ho lantas melebur dengan Muslim Tiong Hoa setempat. Bahkan, salah satu selir dari raja keempat Majapahit Wikramawardana merupakan seorang Tiong Hoa kemudian melahirkan putra bernama Swan Liong yang setelah masuk Islam bernama Arya Damar/ Arya Abdillah atau Jaka Dillah. Arya Damar ini di kemudian hari menjadi bapak tiri dari Raden Patah/ Jin Bun yang merupakan Sultan Demak.
Sunan Ampel di Era Majapahit dan Sang Pembuka Era Demak
Raden Patah (asal kata al-Fatah Sang Pembuka) mempunyai nama Tiong Hoa: Jin Bun_(orang kuat) karena ibunya berdarah Tiong Hoa putri dari Kyai Batong/ Ma Hong Fu. Ayahnya, Raja Kertabhumi/ Brawijaya V menceraikan ibunya karena kecemburuan sang permaisuri dari Campa. Kemudian pamannya, seorang berdarah Tiong Hoa Swan Liong/ Arya Damar putra dari Brawijaya III dan selirnya yang berdarah Tiong Hoa.
Setelah dewasa, Raden Patah menolak menjadi penerus Arya Damar sebagai Adipati Palembang. Kemudian bersama adik tirinya (Raden Kusen) berguru ke Bong Swi Hoo (Sunan Ampel) di Surabaya, Jawa Timur. Setelahnya, Raden Kusen mengabdi ke Majapahit, Raden Patah membuka pesantren di hutan Glagahwangi, Jawa Tengah. Glagahwangi ini yang kemudian berubah nama menjadi Demak dengan ibukota di Bing-to-lo (ejaan Tiong Hoa untuk Bintoro).
Bong Swi Hoo/ Sunan Ampel adalah keponakan permaisuri Brawijaya V (Kertabhumi/ Kung-ta-bu-mi) yang juga adik dari ibu beliau- Amarawati. Tak heran kalau kiprah Sunan Ampel di wilayah Majapahit dilindungi penuh oleh Kertabumi meski berbeda agama.
Sepeninggal Sunan Ampel-lah, ketegangan Raden Patah dan Kertabumi baru bermula. Diantara sebabnya memang selepas Sunan Ampel, ada Sunan Giri yang dianggap Majapahit lebih “ekstrim” dalam cara ber-Islam dibanding wali sembilan lainnya.
Sunan Giri sendiri merupakan anak dari Maulana Ishak (asal Pasai) dengan putri dari Keraton Blambangan Hindu (Dewi Sekardadu).
Asal Muasal Muslim Hadir di Bali
Kaum Muslim Tiong Hoa era Cheng Ho pun sempat merambah ke pulau Bali. Di Buleleng, Labuhan Haji, Desa Temukus terdapat makam kuno tokoh Muslim bernama The Kwin Lies atau dikenal Syekh Abdul Qadir Muhammad. Makam ini juga dikenal dengan nama Keramat Karangupit. Diprediksi kedatangan beliau beberapa tahun setelah ekspedisi Cheng Ho, sekitar 1406-1430 (abad XI).
Sementara, adapula, Pangeran Sosroningrat Madura Muslim asal Mataram Islam abad 17 yang menikahi putri Raja Badung.
Jauh sebelumnya, terdapat kunjungan politik rombongan Muslim pada era Dalem Ketut Ngelesir dan Watu Renggong abad 15 yang akhirnya mereka menetap dan kawin mawin dengan wanita Bali.
Dari seluruh gelombang kedatangan yang tidak terkait itu, Muslim Gelgel, Kelungkung, dapat disebut paling tua keberadaannya. Saat itu Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460) mengadakan konferensi raja-raja nusantara awal 1380an. Sepulangnya ke Gelgel, Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang memerintah Majapahit memberikan 40 orang pengiring yang seluruhnya Muslim. Keempat puluh Muslim tersebut menetap sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel. Mereka membangun Masjid pertama di Bali.
Ketika Dalem Waturenggong (1460-1550) menggantikan Ketut Ngelesir, sebagian putra pemimpin Majapahit Kertabumi/Brawijaya V (1469-1478) juga menjadi Muslim seperti Batara Katong, Raden Patah, *Raden Harya Gugur* (adipati Pamekasan, Madura), Pangeran Bondan Kejawan, Pangeran Bondhan Surati, serta lainnya.
Demak, kemudian, bertepatan dengan tahun meninggalnya Raden Patah 1518 akhirnya mengakhiri eksistensi Majapahit. Dimana juga menjadi berkah bagi Bali untuk mengukuhkan statusnya dari vassal Majapahit menjadi kerajaan merdeka.
Waturenggong dalam perjalanannya juga menjadi teladan dalam membangun kultur perekat yang lebih menonjolkan kesamaan, saling menghargai dan menghormati, sehingga jauh dari benih perseteruan. Pengelolaan kebhinekaan antar agama tertata rapi melalui persamaan tanpa mempermasalahkan adanya perbedaan.
Beliau, meski bukan Muslim, namun dikenal selalu memberikan sangu kepada warga Muslim yang akan menunaikan Haji ke Mekkah. Termasuk kemudian pemberian tanah oleh puri di kampung Jawa dan kampung Lebah. Realitas kepemimpinan ini yang telah menempatkan situasi Gelgel di abad 16 M dalam suasana aman tentram.
Kalau kini, Bali ditakdirkan menjadi Ibukota pariwisata Indonesia, sejarah ini layak diingat. Dalam rangka mencegahnya dari hasutan oknum untuk menjadi ekslusif, represif, dan anti-kemajemukan.

Comments 0

Leave a Reply